Senin, 12 November 2018

Suro Bulan Kebudayaan 2018 di Kota Solo


Ternyata Ada Acara Rutin Tiap Nutup 
Bulan Suro di Kota Solo


          Malam hari ini ada yang berbeda di halaman Museum Radia Pustaka. Ada Pagelaran seni pertunjukkan yaitu Suro bulan Kebudayaan 2018. Pertunjukkan seni ini digelar untuk melakukan penutupan sasi (bulan) Suro. Memang kegiatan ini diadakan karena termasuk rangkaian acara di bulan suro. Sebelumnya juga ada rangkaian pembukaan bulan suro seperti diadakannya Kirab Keris di Keraton Mangkunegaran Surakarta dan juga Kirab 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta yang sudah termasuk kegiatan rutin yang diadakan setiap tahunnya di awal bulan suro di Kota Solo.

            Perlu kita ketahui, Kegiatan pagelaran seni Suro Bulan Kebudayaan ini sudah digelar sekitar 5 atau 6 tahun terakhir. Sekarang kegiatan ini sudah termasuk agenda rutin yang dilakukan saat bulan suro seperti halnya Kirab 1 Suro dan diadakan saat akhir bulan suro tujuannya untuk menutup rangkaian kegiatan di bulan suro di kota Solo. Kegiatan Suro Bulan Kebudayaan ini dilaksanakan oleh Para Penggiat Seni dan Pemerhati Seni di Surakarta.

Satu suro merupakan saat ketika masyarakat Jawa merayakan tahun baru. Dalam Islam, ini dikenal dengan tanggal satu Muharam. Saat malam 1 Suro tiba, orang Jawa tidak menyambutnya dengan kemeriahan, melainkan dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri. Masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (merenung sambil berdoa). Bagi orang Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa diyakini sebagai bulan yang sakral atau suci. Ini adalah bulan yang tepat untuk merenung, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa. Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berintrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.


Dalam Pagelaran Suro Bulan Kebudayaan 2018 kali ini mengangkat tema ‘Nutup Bulan Suro’ yang dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 11 Oktober 2018 bertempat di halaman Museum Radya Pustaka pada pukul 19.30 wib sampai selesai. Acara pagelaran seni ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Kabag Pemerintahan Setda Kota Surakarta, tokoh Budayawan, Seniman dan Seniwati, tamu undangan dan masyarakat umum yang penasaran dan ingin melihat kegiatan Pagelaran Suro Bulan Kebudayaan 2018 ini secara langsung. Masyarakat umum masuk secara gratis untuk menonton Nutup Bulan Suro 2018 ini.


Tahun ini, di Pagelaran Suro Bulan Kebudayaan 2018 banyak sekali pertunjukkan seni dan budaya yang sudah lama ada maupun yang baru muncul di kota Surakarta. Beberapa pertunjukkan seni dan budaya yang ditampilkan yaitu seperti Srihadi Bismo, Boby Independent Expression, Retno “Eno” Sulistyorini, Diego Leonard De Olivera, Wisnu HP, Nungki Nur Cahyani, Barong UNISRI dan Otnil Tasman “Seblaka Sesutane”. Acara Nutup Bulan Suro ini dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Surakarta Achmad Purnomo. Dalam sambutannya, Achmad Purnomo menyampaikan, bahwa pergantian tahun baru Jawa atau dikenal dengan Bulan Sura merupakan momentum untuk mawas diri maupun instropeksi terhadap pribadi masing-masing. 


Dalam filosofi jawa yaitu selalu mengharapkan adanya keharmonisan dan keselarasan di dalam kehidupan yang berkonsep  'memayu hayuning bawana' dan selalu dijadikan landasan budi pekerti dalam setiap tindakan manusia. Setelah dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Acara pagelaran seni dibuka dengan kegiatan ritual yaitu ‘Umbul Dongo’ oleh Para Budayawan Kota Surakarta. Tujuan dari ritual ‘Umbul Dongo’ ini adalah untuk berdoa memohon dan meminta keselamatan dan kesejaheraan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dan setelah umbul dongo masih banyak lagi pagelaran seni yang ditampilkan.


Salah satu Budayawan Surakarta Bapak Suprapto Dhuryu Dharmo menjelaskan mengenai ritual yang dilakukan setiap nutup suro, “Seperti yang dilakukan di awal acara ini ‘Umbul Dongo’, kegiatannya seperti berdoa semaleman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selametan kepada siapa saja yang terindra maupun tidak terindra.” Jelasnya. Bapak Suprapto juga menambahkan tentang makna yang terkandung dalam kegiatan ritual ‘Umbul Dongo’, “ritual kebudayaan jawa itu, kebudayaan yang mengakui adanya manusia, alam dan Tuhan. Jadi, kita mencoba untuk bergabung dengan unsur-unsur alam kita, lalu kita gabungkan dan rengkuk bersama agar damai, selaras yang dalam jawa disebut dengan rahayu.” Tambahnya. Bapak Suprapto Dhuryu Dharmo sendiri adalah salah satu yang ikut menginisiasi terciptanya kegiatan Suro Bulan Kebudayaan ini. 


Salah satu yang special di kegiatan Suro Bulan Kebudayaan 2018 kali ini adalah adanya pengisi acara yang berasal dari luar daerah Solo bahkan dari mancanegara. Nungki Nur Cahyani adalah seniman dari Yogjakarta yang membawakan tarian Tambangkaran. Tarian ini dibuat oleh Nungki karena terinspirasi dari peran Kentini. Ada juga penampilan dari Diego Leonard De Olivera yang berkolaborasi dengan Hanoman dari Solo yang membawakan tarian Loro papat lima pangkat. Konsep dari tarian tersebut adalah ritual mengingatkan kembali kenangan kepada nenek moyang dan serta untuk merayakan penemuan jati diri melalui pertemuan antar budaya. Diego Leonard sendiri berasal dari Brazil.


Kita semua sudah masuk ke kebudayaan kota. Orang dulu mengenal musik macapat tetapi sekarang lebih mengenal musik barat. Akibatnya melihat budaya tradisi menjadi kuno, serem, sudah tidak jaman dan dianggap musrik. Padahal sebenarnya, itu semua mempunyai nilai-nilai luhur dan dari dulu juga sudah ada peruahan untuk memilah yang mana yang cocok dan tidak cocok di terapkan. Budaya Jawa itu perlu direvitalisasi kembali akan nilai-nilai jawa yang sebenarnya adalah sekretisme dari kebudayaan leluhur dan ada yang telah menjadi kebudayaan islam jawa. Kegiatan seperti bulan suro perlu digali dan perlu ditransformasikan ke jaman sekarang agar generasi sekarang mengetahui tentang budaya leluhurnya dulu yang kebudayaan ini perlu dilestarikan agar tidak punah dimasa depan. 




Dari Pagelaran Suro Bulan Kebudayaan 2018 ini Masyarakat diharapkan dapat memiliki semangat untuk menjaga dan melestarikan budaya sebagai roh di bulan suro, sebagai simbol Bulan Budaya sehingga akan menciptakan kecintaan akan kebudayaan Indonesia dan khususnya terhadap kebudayaan Jawa. Apa yang dilakukan dengan seni dan budaya di Pagelaran Suro Bulan Kebudayaan 2018 ini dapat diambil nilai-nilai yang terkandung dari beberapa kegiatan tersebut dan juga mengambil manfaatnya yang disetiap ritual maupun pertunjukkannya ternyata mengandung berbagai makna yang penting.