Ternyata Ada Acara Rutin Tiap Nutup
Bulan Suro di Kota Solo
Malam hari ini ada yang
berbeda di halaman Museum Radia Pustaka. Ada Pagelaran seni pertunjukkan yaitu
Suro bulan Kebudayaan 2018. Pertunjukkan seni ini digelar untuk melakukan
penutupan sasi (bulan) Suro. Memang kegiatan ini diadakan karena termasuk
rangkaian acara di bulan suro. Sebelumnya juga ada rangkaian pembukaan bulan
suro seperti diadakannya Kirab Keris di Keraton Mangkunegaran Surakarta dan
juga Kirab 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta yang sudah termasuk kegiatan
rutin yang diadakan setiap tahunnya di awal bulan suro di Kota Solo.
Perlu kita ketahui, Kegiatan pagelaran seni Suro Bulan
Kebudayaan ini sudah digelar sekitar 5 atau 6 tahun terakhir. Sekarang kegiatan
ini sudah termasuk agenda rutin yang dilakukan saat bulan suro seperti halnya
Kirab 1 Suro dan diadakan saat akhir bulan suro tujuannya untuk menutup
rangkaian kegiatan di bulan suro di kota Solo. Kegiatan Suro Bulan Kebudayaan
ini dilaksanakan oleh Para Penggiat Seni dan Pemerhati Seni di Surakarta.
Satu
suro merupakan saat ketika masyarakat Jawa merayakan tahun baru. Dalam Islam,
ini dikenal dengan tanggal satu Muharam. Saat malam 1 Suro tiba, orang Jawa
tidak menyambutnya dengan kemeriahan, melainkan dengan berbagai ritual sebagai
bentuk introspeksi diri. Masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan,
lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (merenung sambil berdoa). Bagi
orang Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa diyakini sebagai bulan yang
sakral atau suci. Ini adalah bulan yang tepat untuk merenung, tafakur, dan
introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa. Cara yang biasa digunakan
masyarakat Jawa untuk berintrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan
hawa nafsu.
Dalam
Pagelaran Suro Bulan Kebudayaan 2018 kali ini mengangkat tema ‘Nutup Bulan
Suro’ yang dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 11 Oktober 2018 bertempat di
halaman Museum Radya Pustaka pada pukul 19.30 wib sampai selesai. Acara
pagelaran seni ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Kabag Pemerintahan
Setda Kota Surakarta, tokoh Budayawan, Seniman dan Seniwati, tamu undangan dan
masyarakat umum yang penasaran dan ingin melihat kegiatan Pagelaran Suro Bulan
Kebudayaan 2018 ini secara langsung. Masyarakat umum masuk secara gratis untuk
menonton Nutup Bulan Suro 2018 ini.
Tahun
ini, di Pagelaran Suro Bulan Kebudayaan 2018 banyak sekali pertunjukkan seni
dan budaya yang sudah lama ada maupun yang baru muncul di kota Surakarta.
Beberapa pertunjukkan seni dan budaya yang ditampilkan yaitu seperti Srihadi
Bismo, Boby Independent Expression, Retno “Eno” Sulistyorini, Diego Leonard De
Olivera, Wisnu HP, Nungki Nur Cahyani, Barong UNISRI dan Otnil Tasman “Seblaka
Sesutane”. Acara Nutup Bulan Suro ini dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota
Surakarta Achmad Purnomo. Dalam sambutannya, Achmad Purnomo menyampaikan, bahwa
pergantian tahun baru Jawa atau dikenal dengan Bulan Sura merupakan momentum
untuk mawas diri maupun instropeksi terhadap pribadi masing-masing.
Dalam
filosofi jawa yaitu selalu mengharapkan adanya keharmonisan dan keselarasan di
dalam kehidupan yang berkonsep 'memayu hayuning bawana' dan selalu
dijadikan landasan budi pekerti dalam setiap tindakan manusia. Setelah dibuka
langsung oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Acara pagelaran seni dibuka dengan
kegiatan ritual yaitu ‘Umbul Dongo’ oleh Para Budayawan Kota Surakarta. Tujuan
dari ritual ‘Umbul Dongo’ ini adalah untuk berdoa memohon dan meminta
keselamatan dan kesejaheraan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dan setelah
umbul dongo masih banyak lagi pagelaran seni yang ditampilkan.
Salah
satu Budayawan Surakarta Bapak Suprapto Dhuryu Dharmo menjelaskan mengenai
ritual yang dilakukan setiap nutup suro, “Seperti yang dilakukan di awal acara
ini ‘Umbul Dongo’, kegiatannya seperti berdoa semaleman kepada Tuhan Yang Maha
Esa dan selametan kepada siapa saja yang terindra maupun tidak terindra.”
Jelasnya. Bapak Suprapto juga menambahkan tentang makna yang terkandung dalam
kegiatan ritual ‘Umbul Dongo’, “ritual kebudayaan jawa itu, kebudayaan yang
mengakui adanya manusia, alam dan Tuhan. Jadi, kita mencoba untuk bergabung
dengan unsur-unsur alam kita, lalu kita gabungkan dan rengkuk bersama agar
damai, selaras yang dalam jawa disebut dengan rahayu.” Tambahnya. Bapak
Suprapto Dhuryu Dharmo sendiri adalah salah satu yang ikut menginisiasi
terciptanya kegiatan Suro Bulan Kebudayaan ini.
Salah
satu yang special di kegiatan Suro Bulan Kebudayaan 2018 kali ini adalah adanya
pengisi acara yang berasal dari luar daerah Solo bahkan dari mancanegara.
Nungki Nur Cahyani adalah seniman dari Yogjakarta yang membawakan tarian
Tambangkaran. Tarian ini dibuat oleh Nungki karena terinspirasi dari peran
Kentini. Ada juga penampilan dari Diego Leonard De Olivera yang berkolaborasi
dengan Hanoman dari Solo yang membawakan tarian Loro papat lima pangkat. Konsep
dari tarian tersebut adalah ritual mengingatkan kembali kenangan kepada nenek
moyang dan serta untuk merayakan penemuan jati diri melalui pertemuan antar
budaya. Diego Leonard sendiri berasal dari Brazil.
Kita
semua sudah masuk ke kebudayaan kota. Orang dulu mengenal musik macapat tetapi
sekarang lebih mengenal musik barat. Akibatnya melihat budaya tradisi menjadi
kuno, serem, sudah tidak jaman dan dianggap musrik. Padahal sebenarnya, itu
semua mempunyai nilai-nilai luhur dan dari dulu juga sudah ada peruahan untuk
memilah yang mana yang cocok dan tidak cocok di terapkan. Budaya Jawa itu perlu
direvitalisasi kembali akan nilai-nilai jawa yang sebenarnya adalah sekretisme
dari kebudayaan leluhur dan ada yang telah menjadi kebudayaan islam jawa.
Kegiatan seperti bulan suro perlu digali dan perlu ditransformasikan ke jaman
sekarang agar generasi sekarang mengetahui tentang budaya leluhurnya dulu yang
kebudayaan ini perlu dilestarikan agar tidak punah dimasa depan.
Dari
Pagelaran Suro Bulan Kebudayaan 2018 ini Masyarakat diharapkan dapat memiliki
semangat untuk menjaga dan melestarikan budaya sebagai roh di bulan suro,
sebagai simbol Bulan Budaya sehingga akan menciptakan kecintaan akan kebudayaan
Indonesia dan khususnya terhadap kebudayaan Jawa. Apa yang dilakukan dengan
seni dan budaya di Pagelaran Suro Bulan Kebudayaan 2018 ini dapat diambil
nilai-nilai yang terkandung dari beberapa kegiatan tersebut dan juga mengambil
manfaatnya yang disetiap ritual maupun pertunjukkannya ternyata mengandung
berbagai makna yang penting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar